Senin, 05 Agustus 2019

Tanpa Listrik, Bisa Apa?

Hasil gambar untuk lilin mati lampu

Aku sebelumnya pernah membayangkan, gimana ya kalau tiba-tiba listrik di negeri ini padam dalam skala nasional? Dan terjadilah pada hari ini, Minggu 04 Agustus 2019. Aku siang tadi sedang buang air besar, tiba-tiba saja lampu kedap-kedip, sempat terlintas dalam pikiran “Wah gempa nih ya?” tapi kok gak berasa pusing, lalu dalam hitungan detik lampu di kamar mandi mati. Setelah keluar lalu membuka layar handphone, otomatis jaringan Wi-Fi di rumah mati, dan ternyata jaringan seluler juga tidak ada sinyal.

Lalu kubaca saja e-book yang dikirimkan oleh temanku pada Jum’at malam, dalam membaca itu aku merasakan ketenangan yang syahdu, oh apakah ini yang dirasakan orang-orang masa lalu ketika listrik belum sampai ke rumah-rumah? Tak terasa e-book setebal 80 halaman sudah selesai terbaca. Ketika ku-cek layar handphone ternyata sinyal jaringan seluler sudah muncul namun tidak stabil, timbulah rasa penasaran ini. Cek en ricek ke media internet ternyata yang padam bukan hanya daerahku saja, bahkan se Jabodetabek, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Bahkan ada beberapa media yang menyebutkan terjadi pemadaman listrik se Pulau Jawa!

Pantas saja jaringan seluler tidak ada sinyal, matinya skala luas cuy. Dapet informasi juga kalo jaringan transportasi juga mati seperti KRL dan MRT, transportasi udara (pesawat) terganggu karena matinya radar-radar navigasi, lampu lalu lintas pun juga ikut-ikutan mati yang menimbulkan titik macet dimana-mana. Grab dan Gojek pun sama halnya, gimana mau order, wong gak ada sinyal? Kegiatan usaha yang bergantung pada listrik pun pada tutup, gimana mau jualan wong listriknya mati? Jaringan perbankan pun juga mengalami gangguan. Seperti sedang dalam keadaan dikudeta negara ini.

Gimana ya yang lagi ada acara pernikahan, pasti bingung sendiri tuh weeding organizer sama pengantin beserta keluarganya. Gimana ya event-event besar yang sedang berlangsung? Emang sih mereka punya genset, tapi pasti padamnya hari ini bakal lama karena gangguannya cukup serius.
Selama ini aku terlalu menganggap sepele soal listrik, kadang lupa matiin lampu padahal itu boros listrik. Dari fenomena hari ini, mungkin kita bisa merenungkan, apakah aku, kamu, dan kita sudah bijak dalam menggunakan listrik? Ini baru sehari aja loh listrik padam tapi dampaknya luar biasa. Bagaimana kalau nanti (jangan sampe) pasokan listrik dalam keadaan kritis yang mengakibatkan pemadaman listrik dalam tempo waktu yang lama? Listrik sudah masuk terlalu dalam ke aspek kehidupan manusia.

Sudah saatnya kita sadar dan bijak dalam menggunakan listrik, dimulai dari aku dan kamu yang akan berdampak pada kita yang menikmati keberlangsungan energi nasional. Ohiya, ada beberapa sisi positifnya juga sih dari padamnya listrik hari ini. Orang-orang di sekitar lingkungan rumahku jadi pada keluar rumahnya dan saling interaksi.  Sisi negatifnya, aku tidak jadi ke dokter gigi hari ini karena pasti alat-alatnya pake listrik!

Ternyata selama ini kita sudah terlalu dininabobokan oleh listrik bung…

Save your energy!

Tulisan ini dibuat saat listrik masih padam untuk menghilangkan kegabutan, dan akan diposting ketika listrik sudah nyala dan jaringan internet sudah stabil.

Rabu, 31 Juli 2019

Kebahagiaan Jiwa yang Abadi

https://content.artofmanliness.com/uploads/2013/03/allegory.jpg
Epithumia (Kuda Hitam), Thumos (Kuda Putih), Logos (Kusir)
Bahagia? Tentu menjadi tujuan semua orang. Munafik rasanya jika ada orang yang tidak ingin bahagia. Seorang penjahat pun melakukan kejahatan demi mengejar kebahagiaan. Namun apakah kamu sudah bahagia saat ini? kamu yang tahu jawabannya.

Plato seorang filsuf Yunani (427SM - 347SM), ia mengenalkan tiga unsur jiwa seorang manusia yaitu Epithumia, Thumos, Logostikon, yang akan menjadi jalan untuk mencapai kebahagiaan. Bagi Plato, badan ini digerakan oleh jiwa, maka jika ingin berbahagia, perbaiki jiwanya. Kata Plato, jiwa ini seperti dua ekor kuda (hitam dan putih)) yang digerakan oleh seorang kusir, namun kedua kuda ini memiliki sayap.

1. Epithumia (Kuda Hitam)

Epithumia, adalah bagian paling rendah di jiwa manusia, letaknya berada di perut sampai kaki. Pada bagian Epithumia ini terdapat tiga nafsu, yaitu:
  • Nafsu makan
  • Nafsu minum
  • Nafsu seks
Karena letaknya jauh dari kepala, maka ketiga nafsu ini sangat sulit dikendalikan oleh rasional (akal). Ketiga nafsu ini tak bisa dihindarkan dari seseorang karena ini insting alami. Tapi tetap, ketiga nafsu ini harus terpenuhi secara tidak berlebihan (pas).

2. Thumos (Kuda Putih)

Level selanjutnya kita naik, yaitu di daerah atas perut sampai leher. Thumos dapat diibaratkan apinya kehidupan. Unsur ini berkaitan dengan keinginan seseorang tapi bukan dengan nafsu, keinginan yang rasional. Seperti keinginan seseorang untuk mendapatkan pengakuan (jabatan, status sosial, dll).

Namun Thumos dapat menjadi irrasional (tidak masuk akal) ketika akal sudah tidak dapat mengendalikan keinginan, tetapi akal yang diperbudak oleh keinginan sehingga akal itu mati. Seperti contoh segerombolan suporter tim sepak bola yang fanatik dapat membunuh suporter tim sepak bola musuh bebuyutannya  Itulah kenapa Thumos itu harus tetap dikendalikan rasional (akal) sehingga tidak berlebihan (pas).

3. Logostikon (Kusir)

Sekarang kita telah dipuncaknya jiwa, yaitu kepala. Menurut Plato, pada bagian ini adalah unsur yang paling jernih untuk mengatur dua unsur sebelumnya. Karena dengan mengendalikan kedua unsur tersebut (kuda putih dan kuda hitam) maka jalannya delman (tubuh) akan sampai pada tujuan yang tepat atau mencapai kebahagiaan yang abadi.

Kalau diibaratkan, kedua unsur di bawah (Epithumia dan Thumos) seperti gentong yang bocor, diisi terus-menerus maka airnya tidak akan penuh. Sedangkan Logostikon akan semakin berisi ketika diisi terus (oleh ilmu).

Kesimpulan

Maka menurut Plato, Menyanggupi kebutuhan dua unsur (Epithumia dan Thumos) hanya akan mendapatkan kenikmatan (yang sementara) bukan kebahagiaan (abadi). Karena kebahagiaan yang sesungguhnya itu tidak bergantung pada fisik yang selalu berubah (nafsu makan membutuhkan makanan, bekerja keras untuk menghasilkan uang) tetapi yang lebih dibutuhkan adalah ilmu (hanya membutuhkan jiwa dan akal yang sehat).


Setelah ketiga unsur diatas telah terkendalikan dengan baik (Epithumia, Thumos, Logostikon), maka kata Plato, seseorang akan merasa dekat dengan illahi (Tuhan). Sehingga kuda hitam dan kuda putih (Epithumia dan Thumos) memiliki sayap (Eros) yang dikendarai oleh kusir (Logostikon) mampu menerbangkan delmannya (tubuh) agar lebih dekat dengan Tuhan.