Kamis, 02 Juli 2020

Selusin Faktor Krisis Individu oleh Jared Diamond


Jared Diamond adalah profesor geografi di University of California, Los Angeles (UCLA). Beliau pemenang Pulitzer Price atas karya bukunya, yaitu Guns, Germs, and Steel (Bedil, Kuman dan Baja). Selain itu beliau juga menulis buku Upheavel: Bagaimana Negara Mengatasi Krisis dan Perubahan.

Dalam bukunya yang gue sebut terakhir itu, beliau membahas tentang tujuh negara (Amerika, Jerman, Finlandia, Jepang, Indonesia, Chile dan Australia) yang mampu menghadapi krisis masa lalunya. Sebelum menjelaskan bagaimana ketujuh negara itu bergejolak menghadapi krisis. Jared membawa kita pada bab pertamanya dengan mengenalkan krisis individu.

Menurut beliau, krisis individu dan krisis nasional memiliki selusin faktor yang hampir sama. Perbedaannya adalah krisis individu tidak memerlukan kesepakatan bersama yang dimana krisis negara membutuhkan hal tersebut.

Krisis dan tekanan untuk perubahan disebabkan karena faktor eksternal maupun internal. Sebagai contoh, faktor eksternal bagi krisis individu adalah seperti seseorang yang ditinggalkan oleh pasangannya atau dipecat dari pekerjaanya. Sedangkan faktor internalnya adalah seseorang yang tiba-tiba jatuh sakit.

Jared menekankan kata "selektif" agar seseorang individu berhasil mengatasi tekanan internal maupun eksternal. Maksud selektif disini adalah mencari tahu bagian mana dari identitasnya yang harus dibuang atau tidak berguna lagi dan bagian mana yang harus tetap dipertahankan.

Lalu, bagaimana kita mendefinisikan krisis? Asal-usul kata krisis adalah "crisis" yang diturunkan dari kata benda "krisis" dan kata kerja "krino" dalam bahasa Yunani yang memiliki arti: pemisahan, penentuan, pembedaan dan titik balik. Simpelnya ialah proses dimana merasakan diri kita menghadapi tantangan penting yang tidak dapat dilalui dengan metode yang biasa saja. Kita dipaksakan untuk menggunakan metode yang baru untuk menghadapi tantangan tersebut.

Terapi krisis yang telah dijalankan oleh banyak psikolog mengidentifikasi selusin faktor yang membuat seseorang mampu menghadapi krisis tersebut. Berikut beberapa faktor krisis yang dikemukan Jared dalam bukunya Upheavel: Bagaimana Negara Menghadapi Krisis dan Perubahan.

1. Pengakuan Seseorang Berada Dalam Krisis
Untuk menyelesaikan suatu masalah, maka harus ada pengakuan dalam diri bahwa dirinya sedang berada dalam masa krisis. Terkadang beberapa orang sulit menyadari bahwa dirinya dalam kondisi krisis bahkan butuh waktu yang cukup lama. Sehingga pengakuan seseorang berada dalam krisis adalah suatu langkah awal, yang tanpa itu tak akan ada kemajuan untuk menyelesaikan masalah.

2. Penerimaan Tanggung Jawab Pribadi
Setelah mengakui diri berada dalam kondisi krisis, seorang individu harus menerima tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahannya. Bukan malah mengkambingkan orang lain atas masalah yang menimpa kita. "Ya, aku punya masalah, orang lain harus bertanggung jawab atas masalahku". Alangkah lebih baiknya ubahlah mindset dalam kepala menjadi "Ya saya punya masalah, orang lain mungkin dapat membantu saya dalam menyelesaikan masalah ini. Tapi saya adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas masalah saya sendiri, bukan orang lain".

3. Membangun Pagar
Sudah mengakui bahwa diri berada dalam kondisis krisis dan sudah menerima tanggung jawab pribadi untuk menyelesaikannya, Selanjutnya pertanyakan dalam diri kita "Apa nilai-nilai dari dalam diri saya yang harus tetap dipertahankan? Apa nilai-nilai dalam diri saya yang harus diubah?". Dari pertanyaannya itulah kita telah membangun pagar untuk fokus merubah nilai-nilai yang harus diubah dalam diri kita.

4. Bantuan dari Orang Lain
"Tapi saya satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas masalah saya sendiri, bukan orang lain" bukan berarti kita tidak membutuhkan bantuan orang lain. Jangan bohong pada diri sendiri bahwa kita sebenarnya membutuhkan orang lain untuk membantu kita menyelesaikan masalah, yang salah adalah kita menganggap orang lain adalah pemeran utama dalam drama penyelesaian masalah kita.

5. Orang Lain Sebagai Model
Krisis yang sedang kita hadapi, pastinya pernah dihadapi oleh orang lain. Maka dari itu pelajarilah bagaimana orang tersebut menyelesaikan krisis yang sedang kita hadapi saat ini. Namun, tidak menjiplak seutuhnya, hal tersebut akan dijelaskan pada faktor yang lain.

6. Kekuatan Ego
Kekuatan ego adalah rasa percaya diri yang lebih luas, yaitu ketika kita merasakan tentang diri sendiri, memiliki tujuan dan menerima diri sendiri apa adanya. Kita mampu secara mandiri dan bangga untuk menentukan jalan hidup kita sendiri, tidak peduli dengan persetujuan orang lain untuk keberlangsungan hidup kita. Dengan kekuatan ego tersebut akan dengan mudah mentolerir rasa frustasi dan menemukan solusi-solusi baru untuk mengatasi krisis kita.

7. Penilaian Diri yang Jujur
Kekuatan ego bukan menjadikan kita egosentris yang merasa kita adalah segala-galanya. Kita harus mampu menilai diri kita sendiri secara jujur. Seperti pepatah suku Baduy "Panjang jangan dipotong, pendek jangan disambung". Kalau perlu tertawai kebodohan kita dan lekas memperbaikinya. 

8. Pengalaman Krisis Sebelumnya
Tentunya kita tidak hanya sekali melalui krisis dalam kehidupan kita. Kesuksesan kita dalam mengatasi krisis di masa lalu akan membawa kita lebih percaya diri untuk menghadapi krisis yang kita hadapi saat ini. Kalau kata Tan Malaka "Terbentur, terbentur, terbentuk!". Dengan pengalaman krisis sebelumnya kita akan menganggap bahwa badai akan berlalu dan kita akan baik-baik saja.

9. Sabar
Mungkin faktor ini adalah hal yang paling sulit kita lakukan. Memang kesabaran tidak terbentuk semalam jadi, ia adalah hasil dari proses yang panjang. Untuk menghadapi krisis kita harus mampu menghadapi ketidakpastian, ambiguitas dan kegagalan pada usaha pertama dalam menangani krisis.

Seperti dalam kutipan Al-Quran "Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum tersebut tidak berusaha merubahnya" (mohon koreksi kalau salah). Usaha pertama gagal, kedua gagal lagi, ketiga gagal lagi, coba terus sampai kita menemukan metode yang paling tepat. Ingat cerita Thomas Alfa Edison dalam proses penemuan lampunya? Mungkin bisa jadi contoh.

10. Fleksibilitas
Fleksibilitas adalah lawan dari kekakuan, Dimana fleksibilitas kita menganggap tidak hanya satu cara untuk menyelesaikan satu masalah. Sedangkan kekakuan menganggap bahwa hanya ada satu cara untuk menyelesaikan masalah. Apalagi di era yang semakin modern saat ini, teknologi dan budaya berkembang cepat. Maka dari itu diperlukan kepribadian yang fleksibel untuk mengatasi krisis diri.

11. Nilai Inti
Faktor ini menekankan untuk kita mengetahui nilai inti apa yang membentuk identitas kita, entah itu agama, budaya ataupun komitmen. Pada faktor 5, kita telah mengadopsi model orang lain untuk mengatasi krisis kita. Namun kita harus sadar, bagian mana yang harus kita ikuti dan bagian mana yang harus tetap kita pertahankan sebagai pembentuk identitas kita.

12. Bebas dari Kendala
Faktor yang terakhir kebebasan kita untuk memilih metode mana yang harus kita lakukan untuk mengatasi krisis kita dan tidak terikat tanggung jawab terhadap siapapun atas pilihan kita. Dengan begitu kita akan dengan mudah menemukan solusi dalam menangani krisis diri ini.

Itulah selusin faktor yang dikemukakan oleh Jared Diamond dalam bukunya yang gue baca. Menurut gue rasanya mustahil kita bisa menggunakan seluruh faktor yang telah dipaparkan dalam menangani krisis kita. Semoga apa yang gue tulis bisa jadi salah satu rujukan dalam menangani krisis diri yang sedang kita hadapi, apalagi saat ini lagi ramai-ramainnya membahas Quarter Life Crisis.

Jika adalah salah kata-kata atau maksud yang tidak sesuai dari bukunya, dengan senang hati gue persilahkan kalian untuk mengkoreksinya. Sebagai penutup, izinkan gue mengutip kutipan salah satu filsuf barat dalam buku ini:

"Apa yang tidak membunuh kita, membuat kita lebih kuat" - Nietzsche

Selasa, 30 Juni 2020

Pelajaran dari One-Punch Man

t_5d70e50cdb772.jpg (700×442)

One-Punch Man
adalah serial manga Jepang yang menceritakan superhero bernama Saitama. Ia memiliki kekuatan pukulan yang tiada banding. Sesuai judulnya, ia mampu mengalahkan musuhnya hanya dengan sekali pukulan.

Keinginannya menjadi pahlawan hanyalah untuk bersenang-senang. Pertemuannya dengan Genos yang setelah itu diangkat menjadi muridnya, membuat Saitama bertemu dengan banyak pahlawan yang tergabung dalam Asosiasi Pahlawan.

Ternyata keinginan untuk bersenang-senang itu tak ia dapatkan, karena kekuatannya yang terlalu over power tak ada monster ataupun lawan yang dapat menandinginya.

Pelajaran yang Didapat

1. Niat Baik Saja Tidak Cukup
Asosiasi pahlawan adalah perkumpulan para pahlawan yang bertugas untuk mengamankan kota dari serangan para monster. Terdapat kelas-kelas untuk pahlawan mulai dari kelas S yang paling tinggi hingga kelas C yang paling rendah. Para pahlawan saling bersaing untuk meningkatkan peringkatnya ataupun naik kelas. Maka tak heran, terkadang satu sama lain dari mereka saling menjatuhkan. 

Tak berbeda jauh dalam kehidupan kita, di sekeliling kita sering terjadi hal serupa. Saling menjatuhkan satu sama lain hanya demi reputasi di muka umum atau sanjungan dari orang-orang dengan menghalalkan segala cara. Ternyata niat baik saja tidak cukup jika tidak dibarengi akhlak yang baik.

2. Konsistensi
Sebelum menjadi sangat kuat, Saitama hanya orang biasa. Kekuatannya itu didapatkan setelah ia melakukan push up ratusan kali, pola makan yang baik dan mengelola emosinya. Hal tersebut dilakukannya tidak dalam jangka waktu yang sebentar, ia melakukannya secara konsisten setiap hari.

Ditengah proses ia sempat merasakan kejenuhan, tapi karena tekadnya yang kuat, ia mampu melawan kejenuhan tersebut dan tetap konsisten pada latihannya.

3. Menjadi Terlalu Kuat Tak Menjamin Kebahagiaan
Banyak orang yang mendambakan kekuatan yang super pada dirinya, namun Saitama menjadi gambaran bahwa terlalu kuat tidak menjamin seseorang akan bahagia.

Karena kekuatannya yang super itu, Saitama merasa jenuh karena tidak ada yang mampu menyainginya. Ia telah kehilangan tantangan dalam dirinya. Hanya sekali pukulan, lawannya akan langsung kalah. Sepertinya, tantangan merupakan salah satu faktor kebahagiaan seseorang ketika mampu melaluinya bukan?

4. Kebohongan adalah Utang di Masa Depan
King adalah salah satu pahlawan kelas S, ia dikenal sebagai pahlawan terkuat. Alih-alih terkuat, ternyata selama ini King berlindung pada kebohongannya. Orang-orang hanya mengetahui King telah mengalahkan banyak monster, nyatanya dibalik itu semua ada sosok Saitama yang selalu melindunginya tanpa diketahui orang lain.

Di satu momen, ada monster yang sedang mencari King untuk mengetes kekuatannya. Mengetahui hal itu, King ketakutan karena ia sadar bahwa sebenarnya ia tidak dapat berkelahi maupun memiliki kekuatan yang super. Atas rasa itulah ia merasa terbebani dalam hidupnya, apalagi orang-orang selalu mengharapkan bantuannya.

Selain itu, layaknya film Joker, muncul sosok Garou murid dari Silverfang yang tumbuh menjadi begitu kuat. Luka masa kecilnya yang dikucilkan dari lingkungan sekitarnya, Garou berhasrat untuk menjadi monster yang menjadi simbol ketakutan. Mirip-mirip sama Joker bukan?

Mungkin itu saja beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari serial One-Punch Man ini. Mungkin ada beberapa yang gue enggak tangkep, mungkin kalian bisa menambahkannya. Bye!