Minggu, 23 Agustus 2020

Tilik, Film Pendek yang Satir


Beberapa hari kebelakang, ramai bersliweran di timeline Twitter gue film pendek yang dikeluarkan oleh Ravacana Films yang berjudul Tilik (menjenguk). Kebetulan ketika gue lagi buka youtube ada rekomendasi film ini di timeline gue, karena penasaran gue tontonlah film ini.

Film ini berkisah tentang rombongan ibu-ibu dari suatu desa yang hendak menjenguk ibu lurah ke Rumah Sakit di Kota. Beberapa hal yang kita tahu, di desa masih banyak warga yang menggunakan angkutan truk untuk pergi secara rombongan, berbeda dengan warga kota yang mungkin akan lebih memilih untuk menyewa bus. Maka dari itu tidak heran nama supir dalam film ini adalah Gotrek, mungkin layanan baru untuk mendampingi Gojek dan Gocar.

Bu Tejo dan Yu Ning adalah dua tokoh dengan karakter yang berbeda. Bu Tejo adalah pembawa kayu bakar yang suka melemparkan gosip, sedangkan Yu Ning adalah orang yang selalu berusaha berprasangka baik dalam menerima informasi selama itu belum dipastikan kebenarannya. Dian, seorang gadis desa selalu menjadi bahan gosip yang begitu digemari selama perjalanan.

Ditengah-tengah asyiknya bergosip, ada suatu momentum, yang dimana pak polisi pun jadi bahan keisengan para ibu-ibu ketika truk yang mereka tumpangi ditilang. Bayangkan saja, dua polisi lawan satu ibu-ibu saja polisi bisa salah dihadapan ibu-ibu. Apalagi satu polisi lawan ibu-ibu satu truk?

Pro dan Kontra

Di internet banyak terjadi pro dan kontra terkait film ini. Para pihak pro menyatakan bahwa film ini begitu epik menggambarkan realitas kehidupan sehari-hari yang terjadi di masyarakat kita. Bahkan film ini seperti bukan film, begitu naturalnya para ibu-ibu memerankan perannya masing-masing. 

Para pihak kontra menyatakan bahwa film ini tidak mendidik. Karena membenarkan seseorang untuk menyebarkan kabar negatif tanpa klarifikasi walaupun hal tersebut benar. Beberapa netizen juga mengganggap film ini terlalu menyerang gender wanita. Ya mungkin lagi kebetulan aja film ini lagi ngangkatnya tentang ibu-ibu, suatu saat mungkin akan muncul film yang isinya bapak-bapak lagi gosip di pos ronda sambil ngopi sama makan pisang goreng.

Yah, tapi perdebatan itu wajar-wajar saja. Bahkan dengan perdebatan, akan semakin menarik bagi para netizen dengan begitu mereka mampu mengambil nilai-nilai yang baik dari film ini.

Terima kasih Bu Tejo, yang sudah mewakili kami yang kadang suka julid ini terhadap teman, saudara, ataupun tetangga. Terima kasih Bu Yu Ning, karena telah mengajari kami untuk selalu berprasangka baik, walaupun terkadang hasilnya mengecewakan.

"Tapi Bu Tejo nggak takutkan sama ulernya Pak Tejo? hahaha" - Ibu-ibu di tengah sawah

Senin, 17 Agustus 2020

Refleksi Kemerdekaan

Foto Anak-anak Dari Seluruh Dunia Ini Sanggup Membuat Orang Dewasa ...

Merdeka bukan hanya sebuah kata
Merdeka adalah sebuah sikap
Merdeka dalam berpikir
Merdeka dalam bertindak

Tiga per empat abad sudah
Indonesia hadir sebagai bangsa
Di hadapan panggung dunia
Bersemboyankan Bhineka Tunggal Ika

Kaum muda dan tua
Tak jarang berselisih karena pandangan yang berbeda
Untuk satu tujuan yang sama
Menentukan bangsa ini mau dibawa kemana

Sebelum genap satu abad tiba
Ada sebuah pekerjaan rumah bagi generasi kita
Bunga penutup abad apa yang akan kita punya
Bunga untuk merenungi kekalahan
Atau bunga untuk merayakan kemenangan

Dirgahayu!
Dirgahayu Indonesiaku