Rabu, 16 September 2020

Sindrom Frankenstein dalam Ilmu Ekonomi

"20 tahun terakhir, jam kerja warga Amerika Serikat meningkat setiap tahunnya (9 jam). Selama hampir 100 tahun jam kerja berkurang, penurunan ini tiba-tiba berhenti pada tahun 1940. Itulah dimulai era baru jam kerja" - Julie Schor

Penciptaan PDB telah menandai sebuah titik baru dalam evolusi pemikiran ekonomi dan hubungannya dengan perumusan kebijakan Pemerintah. Seakan-akan ilmu sosial lainnya dikangkangi oleh ilmu ekonomi, demi tercapainya kesejahteraan masyarakat yang didasarkan atas angka PDB.

Arthur Okun direktur Council of Economic Advisers (1968 - 1969) adalah salah satu pemuja angka PDB. Dia mencetuskan Hukum Okun yang berbunyi bahwa setiap kenaikan 3 persen PDB akan menghasilkan penyerapan tenaga kerja sebesar 1 persen. Namun sayangnya, hubungan antara PDB dan penyerapan tenaga kerja ini tak pernah dipertanyakan oleh para pembuat kebijakan ataupun ekonom. Dari 1960an sampai saat ini PDB begitu menguasai arena politik yang menjanjikan kebahagiaan bagi masyarakat.

Setelah periode euforia awal PDB, Kuznets sebagai pencipta angka tersebut mulai meragukan ciptaannya. Ia khawatir apabila bertambahnya belanjaan barang mewah berada di skala pendapatan nasional, maka akan menutupi jatuhnya daya beli di tingkat bawah, sehingga terciptalah yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Dilihat dari kasus seperti itu PDB seakan-akan seperti "pemutih statistik" mencuci ketimpangan yang terjadi. Hal tersebut dapat menciptakan bias bagi para pembuat kebijakan dalam membuat kebijakan ekonomi.. 

Pada 1962, ketika PDB disalahartikan demi tujuan-tujuan politik. Kuznets menyatakan pendapat bahwa kesejahteraan sebuah bangsa hampir tidak dapat disimpulkan dari sebuah ukuran produksi nasional. Menurutnya perhitungan produk neto lebih akurat dibandingkan dengan bruto. Namun dikarenakan efisiensi produk bruto maka PDB menjadi begitu populer yang dikeluarkan dalam tiap kuartal. Walaupun terjadi bias untuk mengukur produksi ekonomi suatu negara.

Sejak pertengahan 1900-an, berbagai kajian telah dilakukan yang menunjukan bahwa tidak adanya korelasi pertumbuhan PDB dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh individu. Dalam makalahnya pada 1974, Richard A. Easterlin dari University of Southern California memaparkan bahwa kebahagiaan individu tidak ikut meningkat saat terjadinya pertumbuhan PDB. Malah Pertumbuhan PDB tidak meningkatkan masyarakat pada suatu titik rasa berkecukupan, sebaliknya pertumbuhan PDB meningkatkan keinginan individu pada taraf hidup yang lebih tinggi lagi yang menciptakan rasa tak merasa cukup.

Pada 1977, paradoks Easterlin diuji dengan data yang lebih baru dan kompherensif namun hasilnya sedikit lebih optimistis. Kebahagiaan yang dilaporkan di AS maupun Eropa hanya tumbuh sedikit saja dalam 20 tahun terakhir sedangkan pertumbuhan PDB menunjukan peningkatan yang luar biasa. Tingkat pertumbuhan bunuh diri masyarakat di negara-negara kaya bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara miskin. Simpelnya, pertumbuhan ekonomi hanya membeli secuil kecil saja kebahagiaan.

Perhitungan PDB umumnya mengabaikan sumber kemanfaatan atau ketidakmanfaatan yamg tidak terkait dengan transaksi pasar atau diukur oleh nilai pasar untuk barang dan jasa. Hal tersebut membuat Nordhaus dan Tubin mengatakan bahwa dihapuskannya waktu luang dan kegiatan produktif nonpasar dari pengukuran produksi memberi kesan bahwa para ekonom itu materialistis secara membabi buta.

Dengan contoh sebagai berikut, saat kita membangun taman yang indah di halaman rumah kita dan memiliki tetangga yang begitu mengjengkelkan. Maka kedua hal tersebut tidak menjadi salah satu faktor kebahagiaan individu yang dilihat oleh para pembuat kebijakan. Terkadang hal-hal yang berpengaruh negatif terhadap masyarakat malah berpengaruh positif terhadap PDB. Seperti misalnya ketika di suatu daerah yang lingkungannya sudah terkontaminasi akibat aktivitas tambang, namun bagi PDB itu adalah pertumbuhan ekonomi yang menandakan pertumbuhan ekonomi yang dianggap mampu meningkatkan kebahagiaan masyarakat di daerah tersebut.

Pada 1970an, ekonom Fred Hirsch secara panjang lebar mengatakan sebagai warisan moral yang menipis dari pertumbuhan PDB. Menurut Hirsch, PDB hanya dapat mempertahankan dirinya melalui penghancuran barang-barang non-pasar, yaitu dengan mengurangi pemakaian gratis dengan cara digantikan dengan pemakaian yang berbayar. Dalam The Great Transformation pakar ekonomi-politik Karl Polanyi menyajarkan proses eksploitasi manusia dan sumber daya alam yang mencirikan pembentukan "masyarakat pasar".

Kehidupan urban adalah kota yang dibangun untuk pekerja, jarang ditemui fasilitas gratis, banyak tempat-tempat menawarkan hiburan yang berbayar. Apalagi kesejahteraan individu masyarakat urban sangat bergantung pada apa yang orang lain lakukan sehingga menimbulkan dampak negatif bagi mereka untuk menguras sumber dayanya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, yang dinamakan pengeluaran defensif yaitu pengeluaran yang digunakan untuk mempertahankan dirinya dari degradasi sosial.. Ekonom Italia Antoci dan Bartolini menyebut ini sebagai "Sindrom Penyejuk Udara". Dimana masyarakat menggunakan penyejuk udara di dalam ruangannya, dari mesin penyejuk udara menghasilkan gas-gas yang merusak ozon bumi, sehingga membuat bumi lebih panas. Dengan begitu masyarakat luas akan berbondong-bondong untuk membeli penyejuk udara.

Lalu sebenarnya apa yang membuat hidup ini bernilai?

Walaupun begitu, tidak semua mereka yang berada di panggung politik mempercayai angka yang maha ajaib ini. Salah satu dari politikus itu adalah Robert F. Kennedy saudara dari JFK. Pada 1968 ia mencalonkan diri sebagai presiden dengan mengusung platform keadilan ekonomi. Dalam kampanyenya di University of Kansas, ia menyampaikan dalam pidatonya yang bersejarah, yaitu:

"Produk Nasional Bruto tidak menghitung kesehatan anak-anak kita, kualitas pendidikan mereka, atau suka rianya permainan mereka. Perhitungan itu tidak mengikutsertakan keindahan puisi kita atau kekuatan rumah tangga kita, kecerdasan kita dalam debat publik atau integritas pejabat kita. pengetahuan kita. Singkat kata, PDB menghitung semuanya, kecuali hal-hal yang membuat hidup kita bernilai."

Seperti Frankenstein dalam novel Mary Shelley, Kuznets mengakui bahaya dari apa yang telah dia ciptakan. Ia memperingatkan politisi maupun masyarakat mengenai potensi manipulasi dan kesalahpahaman seputar PDB dan pertumbuhan ekonomi.

Bersambung...

Sumber: Sejarah dan Realitas Politik di Balik Angka Pertumbuhan Ekonomi, oleh: Lorenzo Fioramonti

Kamis, 27 Agustus 2020

Sejarah Dunia Teh

Tea — The Origin Story. When one of us has an “accident in the… | by Anas  Baig | Medium

Teh, siapa yang tidak mengenal minuman satu ini. Dari masyarakat kelas ekonomi bawah hingga atas pastinya pernah meminum teh dalam hidupnya. Rasanya belum layak dijadikan manusia sejati apabila belum pernah meminum teh sekalipun dalam hidupnya. Namun, sejarah dari teh itu gimanasih?  

Sebenarnya, tidak ada satu orang pun yang mengetahui secara pasti awal mula teh digunakan sebagai minuman. Namun dari sebuah cerita legenda yang ada sejak 3.000 SM, ada seorang kaisar kerajaan China bernama Shen Nung, adalah orang pertama yang menikmati teh dalam bentuk minuman. Ia adalah salah satu Bapak Medis Tradisional China yang sedang melakukan pencarian ribuan tanaman untuk dijadikan obat herbal.

Saat itu, Shen Nung dan pasukannya sedang beristirahat di bawah pohon kecil. Saat sedang memanaskan air di dalam panci, ada daun jatuh dari pohon dan masuk ke dalam air tersebut. Shen Nung memutuskan untuk meminumnya dan langsung merasakan manfaat dari hasil rebusan air yang tercampur dengan daun jatuh tadi.

Namun bukti arkeologi menunjukan waktu yang lebih lama dibandingkan cerita legenda di atas, dari hasil penemuan arkeolog tersebut memprediksi bahwa teh telah dikonsumsi sejak awal zaman Paleolitikum (sekitar 5.000 tahun lalu). Pada zaman dahulu di China namanya adalah t’u, kai, ming dan cha yang kini kita kenal sebagai teh.

Pada masa itu teh menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat China, yang digunakan untuk menyembuhkan beberapa penyakit yaitu, penglihatan yang buruk, menambah stamina, rematik, dan masalah paru-paru sampai ginjal.

Karena kegunaannya, petani di China saat itu melihat bahwa teh adalah tanaman yang menguntungkan untuk ditanam. Di habitat aslinya, tanaman teh tumbuh diantara hutan dan tanah lapang. Dalam hal pembudidayaan, teh dipangkas menjadi seukuran semak. Pemangkasan tersebut memiliki tujuan agar tanaman dapat menyebar secara horizontal untuk menghasilkan banyak daun dan dijaga pada ketinggian yang tetap dapat dijangkau untuk memetik daunnya.

Pada saat Dinasti T’ang (618 – 907 M) seni memproses teh berevolusi dari menggunakan daun mentah menjadi memanggangnya menjadi seperti batu bata kering. Sehingga dapat dibawa untuk jarak jauh dan digunakan dalam waktu yang lama. Dengan proses yang baru tersebut, mengakibatkan perubah rasa yang secara dramatis. Setelah itu teh menjadi begitu popular, dari petani sampai kekaisaran meminum teh setiap hari.

Dinasti T’ang dikenal menghargai seni, puisi, perkebunan, dan musik. Karena kepopuleran teh semakin meningkat, banyak bermunculan tea house dan perkebenunan teh di sepanjang lingkungan kekaisaran. Para ahli teh yang mampu menemukan dan menyiapkan teh secara baik, akan sangat diminati.

Tea master yang paling terkenal saat itu adalah Lu Yu, atau dikenal “Father of tea” atau “Immortal of tea”. Karena ketertarikannya terhadap teh, ia telah menghasilkan tulisan dalam tiga volume dan sepuluh buku yang berjudul Cha Cing atau Teh Klasik yang diterbitkan pada 780 M. Buku tersebut membahas berbagai aspek dari teh, dari mulai cara membuat segelas teh sampai bagaimana cara menikmati teh. Buku tersebut juga membahas bagaimana cara membudidayakan tanaman teh dengan baik. Seiring dengan perkembangannya, para petani mulai banyak yang menanam tanaman teh dimanapun tanaman tersebut dapat berkembang. Meskipun Lu Yu membuat teh dari tanaman liar bukan dari hasil budidaya, sekarang ini sangat sulit menemukan teh yang berasal dari tanaman liar.

Selama Dinasti Song berkuasa yang dimulai pada tahun 927 M, kepopuleran teh semakin meningkat. Saat itu teh menjadi barang dagang utama kekaisaran. Di seluruh China bahkan sampai ke luar perbatasan, permintaan teh semakin meningkat. Hal ini membuat banyaknya kuda-kudang perang yang digunakan untuk mengangkut the. Selama satu tahun kekaisaran sung, 20.000 kuda perang digunakan untuk mengangkut 34 juta teh.

Sumber: A World History of Tea—from Legend to Healthy Obsession